/1/
Ia cantas
Sering kau impi-impikan
Sampai-sampai kau rutin menggalibkan senyum
Tiap bangun tidur di ranjangmu yang murni & lengang
Tiap potret ia gerek dan kibar-kibarkan
Sehabis bau hujan usai dimana ia sering muncul
Kau menggelungkan rambut sampai memunculkan dadamu yang lugu
Dan membuat jenjang leher menjadi tak rahasia
Ia bisu dan kau tak peduli
Hingga batas letih jemari memantrai chatting
Ibumu di dapurnya yang meriah dengan wangi rempah
Mengundangmu menanak nasi tapi kau tolak
Mengajakmu menakar minyak tapi kau tepis
Sampai batas letih ia berkata:
Tuhan,jangan biarkan ia terus menerus ayu namun dungu
/2/
Ia terlahir sebagai senjakala
Wajah merah mega-mega
Hening dan sepi yang sebentar
Dan air laut dibuatnya pasang
setelah itu sambil lalu
Senjakala adalah penengah dua waktu
Pelukis warna untuk olahan penyair
Peluluh rasa
Orang-orang mandi sebelum ia tiba
Membereskan debu yang melantai
Senjakala menutup tiap jendela
Tapi senjakala terlahir untuk senjakala
Di depan pintu tertutup
sebuah kardus dititipkan
Dalam hening & sepi yg sebentar
tangisan telah mengetuk pintu rumah
lalu senjakala dipergunjingkan tiap orang
Bundanya ikut terbenam bersama matahari
/3/
Rumah ibu-bapak kita
Bukan sarang labalaba
licik menjebak dan mematikan
seperti yang banyak orang katakan
Bukan,sama sekali bukan
Rumah ibu-bapak kita
Adalah sorga sebelum sorga
Sarang segala do’a
Dahan bagi segala daun bergantungan
Penyelesaian tiap macam kesusahan
Tanah gembur bagi segala bibit
Kebun yang menyimpan sarang banyak pipit
Pagar dari tiap ancaman
dan ampunan awal bagi setiap kekeliruan
Mari kita ke sana
Dengan sukacita tanpa menggandeng waswas
Kalau kita ke sana
Uang saja takkan sanggup membuat lunas
/4/
Suara kucing berkelahi
di bawah sinar bulan
memperebutkan batas-batas
Mata burung hantu diam di pohon mangga
Rahang gang menghisap sisa debu lalu-lalang
Tak ada yang lebih sepi dari ini
selain cintamu yang hanya hinggap bagai bianglala
Menorehkan sajak-sajak tak bertepi
Dan ceceran hampa
Meski bukan luka
/5/
“Bapak…,Ibu…”
Kemudian sepasang kakak-adik itu berpelukan
Sesenggukan keduanya
Dalam jongkok yang tanggung
Rembesan turun diamdiam meramaikan pipi
Tangan kanan memegang nisan
Jempolnya mengusap-usap ujung nama
Dingin dan tak saling berjawaban
Sebab memang takkan pernah berjawaban
Sampai kapanpun!
Doa campur sesal bersatu
gigi,lidah dan mulutnya gemetaran
dada hampa dan mata kosong
Lalu,terciptalah suasana itu:
Makam yang betul-betul makam
Ibu-bapak & penyesalan terkubur satu
Tapi penyesalan,dalam bangkitnya yg gaib
Masuk ke rongga-rongga dada,
pikiran asli dan seharusnya
Sesak dan memanjangkan tarikan nafas
Hembusannya,memiringkan badan rumputan liar
Capung mengganti tempat semadinya
Sepasang anak manusia itu telah keliru
dalam kesuksesan hidup
yang menjarangkan pertemuan mereka
Padahal
Dalam setiap tangis bayi itu timbul kedatangan
Timbul pertemuan dan turun kasih sayang
Kesibukan campur acuh tlah lama mereka kandung
Di makam,mereka melahirkannya
angin menurunkan putih kemboja
orok penyesalan terlahir dua dan akan terlahir lagi
saat mereka kembali
/6/
Akhirnya kau menangis jua
menderaikan drama airmata sengketa
Aku membayangkan malam ini hujan
dan kau semut yang lepas dari koloni
Perselingkuhan itu
menggarami tiap bulir airmata
menggulungmu jauh hanyut
melaut mengarungi mimpi kekasih
pergi dari kenyataan
dengan seikat beling di dada
Tanpa kompas & nahkoda
Peristiwa cinta lampaumu
menyisihkanku usai lampion padam
Dan kau pejamkan mata tiap bercinta
Sambil menyemayamkan ia di tubuhku
Sejak itu wajahku menggelap
Dekat meja
Menyeka basi keringat sendiri
Tanpa wangi kopi memecah menyapih sunyi
Desis BBM yang kubaca kala kaulelap
Menyahihkan separuh nafasmu masih dengannya
/7/
Pohonan tiap tepi jalan
menguasai desis desir nyanyi-nyanyi angin
terang-terangan tampak
Bergerak pelan-pelan serempak
Ia,angin
Meliuk-liukkan tubuhmu
Enggan merendahkan diri lalu lari
Membikin barah sepanjang punggung jalan
Perjumpaan dengan lengang
Selain waktu malam
Adalah siang ini
Sementara gadis Gunungkencana asyik sendiri
/8/
Perdu tepi jalan mengeluh
Kena panas punggung binasa
Siang pesta warna pesta cahaya
Layang-layang menghadang laju angin
Tidak merumput lembu & kuda
Di siang ramadhan hanya ranjang yang dingin
Aku sibuk memupus uban
Dan kau mulai menyanggulkan masalah
“Lebaran tinggal beberapa hari lagi..”
Keningku bergaris merah
Gendang telingaku bergetar
Menyerap pesanmu yang merambat menjuntai
Telah lelah menjelma zombi di pasar malam kau rupanya
/9/
Di reruntuhan sepi
Mulut bisu terjahit waktu
Tipis kabut menyentuh ujung cemara
Tangan ini menggenggam dingin pisau
Kerling diruncingnya adalah kematian
Dan lampu setengah redup
Menjadi biang segala persiapan
Denyut nadi
dan tatacara menghirup nafas yang purba
masih diizinkan takdir
Aku masih menyayat kewarasan
sambil menyumpahi almanak usang
dan dua tahun kabisat yang melanggengkan badai
Sebelum langit membeberkan utuh bundar bulan
Lebih dulu aku mengenangmu
menutup pintu pagar kayu yang lapuk
Angin sesekali menyisihkan awan
di hati dan di bulan
dengan jemarinya yang gaib
Malam kian lugu dan hilang warna
Usai melumat sisasisa kata di kantong pinggir baju
Tabik itu berkesudahan,sayang
Lelap kali ini tak bisa dibangunkan pagi
/10/
Debu yang terbang siang itu
tak pernah tahu muasal dirinya
Tahu-tahu terdampar di sore yang pucat
sesekali terbang,melayang di udara
digiring angin lewat
sesekali jatuh,menggelinding
tertutup guguran daun berwajah kuning
terinjak sandal-sepatu trotoar
Sore ini
Matanya terpejam menepis akar-akar kilat
Dan bila gemuruh petir terdengar
kecemasan itu muncul
Bayang-bayang hanyut
dan lorong hitam got
Sebelum ia tahu muasal dirinya
Gerimis mendesis mencumbu katak
Lalu semua sejuk berbicara senyap
/11/
Di lembur
Nganga retak sawah
menghisap baris gerimis
yang akan memunculkan kembali gelang Ny.Petani
Di stasiun,
Sore yang berperangai hitam sejak dari kota
akan mutlak menghilangkan debu
di badan KRJ yang membawamu tiba sebelum isya
/12/
Tanpamu aku memintas malam
melalui satu pintu bisu
yang selama ini kau tak tahu
Tersembunyi dibalik lemari
yang menyimpan pakaian,pakaian
dalam dan aneka wewangian koleksimu
kugeser lemari tepat sebelum tanggal berganti
sebelum kau kembali
dari kota yang lama merahimkanmu
Kutemui kembali pengasuhku
lewat pintu itu
demi menghindari pancaroba di puncak bukit
yang penuh dengan srigala bercinta
Sementara cemara gemeretak sambil mengalungkan kabut
tiba-tiba pagi mengaramkan kelam
Aku bersua kembali dengannya
menjadi sepasang murai daun
yang saling berdeklamasi
/13/
Abjad berserak berkarat
Berkeset satu-satu depan pintu
Entah siapa yang menaruhnya
Mungkin anda yang telah menyerah
Mungkin anda yang telah bosan
Meracik kalimat dan riwayat purba
Atau entah siapa
Saya tak melihat siapa-siapa
hanya jatuhan mangga mentah yang menggoreskan getah
di tembok pembatas rumah sebelah kiri
Bukan kelelawar pelakunya kurasa
Sebab bangsa mereka sukanya yang matang-matang
Malam ini bulan cemerlang
Angin lumpuh
Daunan mematung
Saya tetap menduga pelakunya bukan kelelawar
Anda yang ketika pergi berkata:”dua bulan lagi ia lahir”
/14/
Melongok ke jendela terbuka
Angin barbar meluruhkan daun dan ranting
menudungi halaman dan jejak kepulangan
Kubiarkan jadi sajak kisahan
Selama badan belum meranggas
Sia-sia kupikirkan angin yang menebas
dua mata kaki
dan menampar datar telapak tangan
Dua bungkus rokok melompong
Ampas kopi kering di tiga cangkir
Senyap dada meja
bagai hutan tanpa serigala
/15/
Malam terang,lihatlah!
Malam gemerlapan
Bintang berkedipan
Sinar bulan & lampu dikawinkan
Bersatu di matamu
Menyibakkan kegelapan
Malam terang,keluarlah!
Selesaikan sisa persoalan
Dan lahirkanlah lagi harapan
Kita lama asyik dengan siang
Dan melemahkan malam
Dengan lelah senggamaan
Lalu sembunyi di rimba impian
Belantara khayalan
Padahal
malam juga kehidupan
Bisa membereskan sisa persoalan
Sambil menimbang lagi puluhan rencana
Dan di pagi nanti
Kita boleh sembunyi dalam goa
sambil terlelap dan menutup mata
dengan koran atau kuitansi
/16/
Hanya mercu kepala
yang disisakannya
Mengambang menyebar rambutnya
dimainkan gelombang dan kenyataan
Gadis bergaun peri
Berambut panjang lembut hitam arang
Lugu dan sendu
Sempurna mengasinkan mata ia
Dalam laut
Ujung gaunnya bergerak-gerak
lantas terangkat & menampakkan
panjang kaki yang bersih namun letih
Dua tangannya ke belakang
Mengusir yang sudah-sudah
Satu kakinya hampir menginjak pasir
Matanya mengarah pada bintang laut
Berlengan lima melambai gemulai
Ia mengikutinya
Merayap sepanjang laut
Mengendapkan cinta,
senja,dan kekasih yang gila kerja
/17/
Angin tenggara
menyebar wangi jas penghulu
Awan-awan bersatu dan dikawinkan massal
Akar cahaya berjatuhan
Mengecup bibir tanah yang gaib
atau melukai ubun-ubun pohonan
Tambur langit diacuhkan telinga tanah
yang tuli sejak ada
Akar-akar cahaya
bukan keluar dari wajah murka
atau dendam kesumat panjang
Akar-akar cahaya
Menyuruh orang masuk rumah
Menyisi dari jalanan
Menyiapkan ember & menutup jendela
Juga menyiapkan saluran
Jalan jalan air
untuk kepulangan
Akar-akar cahaya
bersilangan membentuk gapura
agar hujan lekas turun
dan melembabkan pipi-pipi kesepian
Selamat datang hujan
Kerna tanah & hati yang kemarau
adalah cikal bakal musibah
gelisah dan keretakan
/18/
Pergilah Nak
Jangan ‘noleh ke belakang
Ibu penuh tetes airmata
yang menggantung lama
di kerut merut khawatir
Bibir gemetar dada cinta khawatir
Jangan kautafsir sebagai palang
Pergilah Nak
Gelungkan masalahmu
Agar leher tak kegerahan
Waktu kau duduk di badan besi
Kereta fajar mengangkutmu pergi
Peluklah tas,perbekalan
dan bayangan wajah kami
Tegakkan badanmu sembunyikan cemasmu
Copet tak peduli siapa mangsanya
Dan berkenalan dengan gadis kereta
Bisa membuatmu lupa nama stasiun kedatangan
Pergilah Nak
Secarik fotomu
Akan mengisi lowong dada kami
Ibu & istrimu
Dan kau pasti rutin kami panggili
Saat runcing gerimis meneror kaca jendela
Atau topan merusak lemah tanaman pekarangan
/19/
Kucing tertidur
menyelip di cabang pohon
Hari yang panas
Tanah panas
Tikus sawah menggelepar
Kerbo kurus kurang rumput
Rusuk sapi kelihatan
Bau segala luka mengambang di udara
Cakarnya sembunyi
Buntutnya jatuh pasrah
Empat anaknya mengeong
mencari puting susu
Pemilik rumah membuka pintu
Semangkuk susu ditaruhnya
Kucing yang tertidur makin lupa bangun
/…/
Burung-burung hitam
Terbang berpencaran
Bulu lepas berhamburan
Langit kelabu diganggu tiga burung biru
Tiga burung biru
Turun dari sorga
Membelah kerumunan licik
Seorang musafir mati kehausan
Menggeletak bibirnya kering
Tiga burung biru
Membawa ruh musafir shalih ke sorga
Mencangkirkan susu dari sungai
Meneteskan ke bibirnya yang merah oleh dzikir
Ia bangun,mengarahkan matanya ke bumi
melihat pemuka agama sibuk berenang
Menghamburkan air dengan menantu & cucu-cucunya
Kemudian
Tiga burung biru berdo’a
Musafir mengaminkan
Mengusapkan telapak tangannya ke muka
/20/
Arah kirimu
Mulai memajang dinding hitam
buntu dan mencekam
Penuh udara jahat
Bebauan sengit
Kerikil-kerikil tajam yang bisu
Di punggung tanganmu
nyala lilin menurun meleleh
Akar-akarnya merambat melekat
Liang pori-porimu nestapa
Bulunya bagai dipenjara
Dan kau mulai bertanya-tanya
Bukankah kanan gelap adalah kepalsuan?
Restu Bunda yang ditinggalkan
Konservatif petuah ayah
Dan rengekan keegoisan tercinta
Lalu apa yang menggelapkannya?
Kenapa dianggap gelap?
Apa artinya kiri cahaya yang buntu?
Dalam duduk
kau menumpukkan pertanyaan
Dan tiada jawaban
Selain kemudian nyala lilin mati
Lalu kau menjawabnya sendiri
sambil mulai meraba arah jalan pulang
/21/
Rencana diam-diam
Tak peduli bintang atau matahari
Adalah dendam
di dalamnya telah menari api
Jalan pikiran telah tertutup
Bulu kuduk telah kemuncup
Derita yang dirasa tlah cukup
membawanya lucup
Dalam lumpur ia merungkup
Demi menghindari ketup
Rencana diam-diam adalah dendam
Dalam lumpur menggenggam pembungkam
Keesokan pagi
Air kali membawa tubuh mengambang pergi
/22/
Rindu yang santer takkan pernah mau mendiamkan tanggal hitam almanak dinding
Tak mau sekedar duduk di kursi depan rumah yang lembab akibat panas-basah cuaca
Ia akan masuk ke lebih dari sekedar ruang tamu.Atau diam-diam mengetuk jendela kamar
tepat di mana angin selalu berhasil mengabarkan bau wajah yang kaukenal itu
Di bulan dengan siang terlarang ini,mungkin makin mengental
Dan kau perlu lebih dari sekedar air untuk mengencerkannya
Perlu lebih dari sekedar dinding untuk meredam suara gelisahnya
Menikahlah
Agar reba yang rebah di tepian jalan itu bisa menemui api,tungku & mematangkan isi periuk
/23/
Usapan angin menyejukkan wajah
Kamis petang ini
dan aku kembali memutar ingatan
soal pertemuan di tanggal pada tahun kabisat
Pertemuan begitu murni & lengang waktu itu
Angin berkeliling di lehermu
yang menyimpan banyak derita
namun mengantarkan wewangian kesukaanku
saat kita panas bercumbu dulu
Sambil merenyai-renyai
kita undang masa lalu
Dan kau garis bawahi kembali
takdir yang tak sampai itu
Jenjang leherku tak pernah menjadi rahasia, katamu,
Dan kau boleh kembali beternak kecupan itu kembali
Kita tak pernah bisa menumpas dosa terindah itu,kekasihku
Waktu itu wajahmu mengkilat tanpa berbedak
Dan wajahku mengkilat di akhir kau mendesak
Kamis petang ini
Aku kembali memutar ingatan
Dan tergerak untuk kembali memicu pertemuan
Kerna masih kesengsem
pada liukan sederhana jasadmu yang mematikan
/24/
Menyaba ke hatimu yang sedang sepi
adalah perjalanan diam-diam yang penuh siasat
Angin telah tersadap!
Aku madmadah sebelum bicara padamu
sebab cinta dulu itu masih suci
/25/
Angin gamblang
namun tetap tak bisa dipegang
Dan aku menaruh curiga
pada tiap kulit di musim hujan
yang mengemis panas
Kemarin engkau mengawatkan kabar
tentang kabaret yang selesai
kembali memintaku mencegat dingin
yang hendak merumah di tubuhmu
/26/
Batuk bapak tak selesai tanpa ramuan tambak bukit
ia menambari nyeri sambil sendiri
mengempo ragam penyakit sambil berjalan
tamimah yang tak jua kendur
Menampi mimpi
menampung keluh-kesahmu
alas wayah masih gelap
kembalilah,Nak
di televisi,pawai alegoris hidup berdesakan
di rumah,segala artefak doyan sembunyi
/27/
Dinding-dinding dingin gang
mengencerkan titik-titik embun
tapi masih mampu menyerap suara tiap langkah
dan tiap kecemasan berwajah baru
Rahang jembatan
tetap bisu dalam nganga
membiarkan angin tetap lewat
di antara tulang-tulangnya yang tua
Mata dan ruh
setengah mengendap di ranjang
Pulas bukan hiburan
ketika kota ini mulai sangat dinamis
/28/
Kalau malam jum’at resmi tiba
sehabis senja kamis menggaib
dan cinta sedang paceklik
Aku berharap bulan tak sekedar muncul
tapi juga menggelontorkan cahaya
hingga menampakkan runcing ujung alang-alang
dan paras gadis desa sehabis pulang mengaji
Biang segala sepi
Adalah kamar yang terkunci
dan jendela yang ketakutan pada mitos
Gadis dalam sinetron di televisi
adalah biang ejakulasi dini
dan awal derita yang panjang
Kalau malam jum’at resmi tiba
dan cinta sedang paceklik
Aku berharap bulan tak sekedar muncul
/29/
Di rahim malam
Ia berkembang dan membesar
Selepas aku menikahi seribu luka
Ia masih kau pelihara
Suatu ketika akan menjadi bayang-bayang
Mendekap kau di sampingku tanpa permisi
Menangislah
Haluskan kulit wajahmu
Ia bahkan tak bisa lenyap
walau lampion & neon padam
Setelah itu
Tataplah aku
Kasihanilah aku
/30/
Aku menyepuh warna malam hari
yang lebih hitam dari kental kopi
Selusin pakaian menjadi saksi
dari gairah yang tak pernah selesai
tiga hari ini
Seluruh kulitmu menjadi emas tua
Berkilauan parasmu menurunkan usia
Hingga kau sejenak lupa
soal pergunjingan di akhir sya’ban yang sudah biasa
/31/
Lima belas kupu-kupu mati di kebun tetangga
setelah bunga-bunga makin jarang disiram
oleh gadis yang gemar menghemat panjang celana
Helena.Ya,Helena yang jelita.Ia kini beranjak remaja
Mulai memotong poni membuang bando
Mulai menstruasi dan gemar manempelkan wewangian di badannya
Helena.Ya,Helena yang jelita
Telah menjadi bunga
Mematikan bunga yang sesungguhnya
Helena.Ya,Helena yang jelita
Makin doyan ‘ngaca’ usai ciuman yang pertama
/32/
Memoles langitMu sore ini
dengan perasaan entah
Hambar,hampa dan penuh duga
Udara dekat jendela tak lagi mengabarkannya
Kabut tlah menggulungnya semalam
diam-diam di runcing ujung cemara
Kau simpan matahari
ke tengah-tengah samodra
Mata kami melihatnya begitu
sebelum tiba segerombolan kelelawar
yang hitam dan awas pada getaran
Ramadhan menuju tanggal tengah
Berbuka ‘ku sendiri
tegukan demi tegukan sunyi
masuk ke leher menyembuhkan dahaga
pantang menyerah siang ramadhan meminang bara
meletakkannya ke tengah-tengah jalan dan gang
Kembali menemui malam
adalah kembali menemui meriah suara mengaji
Dan kabut yang menyelinap turun
lalu cepat membawamu pergi
Tak mendiamkannya sedikit pun di mimpi
/33/
Bantal guling di sebelah
gagu lalu di mana kepalamu singgah?
Pertanyaanku kemudian menghadang laju jarum jam
Bergerombol dan mendorongnya ke belakang,masa silam
Mastronglam itu
malam dari masa silam
Bulan menyabit angin diamdiam
Dan hampa,ternyata lebih nyeri dari ngilu
Kautidur tanpa ritual kecupan
Segera menyampingkan punggung
tanpa persetujuan
Kemudian ranjang begitu gunung
Aku tanpa kompas dalam selimut kabut
Gunung mati penuh pendakian tlah kautaut
Sampai muncullah ia
Keluar dari dada
Ia bangkit sambil memakamkanku di hatimu
Menisankan namaku dan kausetuju
Menanam kemboja di sampingnya
Dan nafasmu,menjatuhkan kembangnya
Bulan menyabit angin diamdiam
Dan hampa,ternyata lebih nyeri dari ngilu
Bantal guling di sebelah
gagu lalu di mana kepalamu singgah?
/34/
Tanda suka kita
pernah purnama
bersatu bundar terang menyala
Tak terhalang sobekan awan
Membagikan kilau
Ke gelap punggung samodra
Kemudian dihempaskan badai
saat malam sempurna tua
Dibelokkan takdir
oleh Yang Maha Segalagala
Menggerek sunyi kita sendiri-sendiri
selepas itu
Mengibarkannya lalu mengupacarakan diri
tiap air laut pasang
Hingga kemunculan kunang-kunang
dari balik gelagah yang menyembunyikan kenyataan
membuat kita mudah menafsir
tiap tanda di tepian berbeda
tanpa mengharapkan nyiur menjatuhkan kelapa
Lalu jalannya waktu
dan perasaan yang masih sama
menuntun kita kembali
memapah cinta dengan sisa tenaga
dan cita-cita semula
Jinaklah angin seusai itu!
Biar kabut mematungkan mereka
Di kamar tanpa cinta
/35/
Matahari sore!,Ya!,Matahari sore
Sedang bundar tembaga
sisi-sisi kuning kemerahan
Selebihnya kelabu sedikit biru
Matahari sore!,Ya!,Matahari sore
Di lampu merah aku berhenti
memspersilahkan yang hijau pada lari
sambil menatap gobang zaman ibu remaja
zaman ibu belum bekerja
Dan
Matahari sore!,Ya!,Matahari sore
kini ia telah selesai bekerja
terus menyepuh diri dalam rumah
hingga kian berharga
Matahari sore!,Ya!,Matahari sore
tiba di rumah kautampak sedang di baduy
Sementara aku baru tiba
dari kantor yang rimba
Matahari sore!,Ya!,Matahari sore
Kumpulan orang licik dan tak tahan lapar
menakutkan kalau sedang empat mata
Orang-orang jujur berkelana
dan dianggap kurang berguna
Matahari sore!,Ya!,Matahari sore
Di depan rumah kami berdua
Istri sedang di mertua
Lalu aku dan Ibu saling bertukar cerita
sambil menatap gobang zaman Ibu remaja
/36/
Biarkan mataku kosong
Tak ‘mandang pigura atau kaca bolong
Biarkan separuh badanku retak
bagai kaca jendela tertimpuk batu,telak
Sekumpulan asap merebut dada
dari darah & udara
Sekumpulan citacita
lepas sarang dan mengembara di udara
Burung-burung pagi pulang dengan sentosa
Mengalahkan lapar dengan keluar dan usaha
Senja adalah suasana hampa
Meriah aneka warna tapi tak bicara
Orang-orang diam saat memandang keadaan
namun menjatuhkan pandangannya dalam tulisan
Biarkan mataku kosong
Catatanku kosong
Lalu menjadi kalong
keluar lewat jendela bolong
Diam-diam mengintai dan menggantung
di hati perempuan yang kosong & sedang bingung
dan merebut cita-citanya yang terpasung
/37/
“Apalah arti kita di bukit ini,cinta”
Menjangan jantan berkata pada betina
kekasihnya
Adalah sepasang menjangan
Lari dari kawanan
Sepasang menjangan yang menyerahkan diri
untuk cinta dan sepi sore yang ngeri
Kabut mulai merambat dasar sekali
Dan kakikaki
merasakan injakan alam mimpi
Kemiringan bukit
Dan sabana legit
tentu tlah ‘ngantuk dan kelelahan
Seharian mereka digosongkan
sambil melamun bagai kerja orang pelarian
Akan tetapi
Angin & air tanah yang suci
menjadikan mereka betah
hingga terus bergetah
Tentu bukan itu maksud pelarian
waktu sudah timbul percintaan
Pelarian mereka bukan bentuk pengkhianatan
Bukan juga oleh sebab pengusiran
Pelarian mereka
beda dengan riwayat manusia pertama
“Apalah arti kita di bukit ini,cinta”
Menjangan jantan berkata pada betina
kekasihnya
Dan di bukit jauh dari kawanan
Menjangan jantan mulai menyerahkan
panas cinta & badan
untuk didekati betina sama kasmaran
Hingga pagi berduaan
/38/
Senja tiba
Mengepung kota
Orang-orang berkata: sungguh tak terasa
Mata kucing nyala
Lampulampu jalan nyala
dalam bungkuknya yang setia
Badan karat dari panas dan hujan
Kaki dikurung debu,ragu,dan kesepian
Lampulampu kendaraan dinyalakan
menitik di kejauhan
silau waktu saling ketemuan
tak tegur sapa bagai musuhan sodara
besi dan besi tak bisa berkatakata
Sisi perempatan yang lengang
adalah sisi keberangkatan
mempersembahkan tubuhnya bagi pagi
dan semua watak buru-buru
Wangi orang-orang baru mandi
Bunyi tegas sepatu si mata layu
Perut-perut mengabaikan sarapan
dan basah rambut perempuan
habis bercinta semalaman
Sisa kemerahan sebelum semua hitam
Mengabarkan wangi tajam
Basah rambut perempuan pagi
Menunggu untuk kubawa pergi
Menjaga kenangan agar tak gampang lari
/39/
Demi mencari sepi
setengah tangga aku lari
sampai mati kan kucari
Sepi di kamar
adalah marabahaya samar
Senar diam tanpa getar
Tiada lirik tiada lagu terdengar
Maka
Kukunci pintu dan jendela
lalu kami pun berkelahi singa
melantai bergulat lapar buaya
Adalah liang kunci
celah untuk sepi meloloskan diri
Liang kunci bukan kurakura
Tak bergigi dan berpunggung baja
Karena liang kunci
sepi makin kuda waktu lolos tadi
Kalau kau sedang menungganginya
Tolong tusukkan belati ke punggungnya
Kerna sepi telah kuda
Tak berbatok kurakura
Kalau kau kalah juga olehnya
Berarti kita tlah sama teraniaya
/40/
Aku tak bisa keluar
dari laju kereta waktu
yang membawa umurku
terus maju
Dari benalu
diubahnya aku jadi mawar biru
kelapa yang serbaguna
lain-lain pohon kayu bernama berharga
hingga beringin tua
Oleh-oleh dari panjang usia
menyimpan uban di kepala
dan gigi yang tembaga
Aku mau keluar
Kerna beringin tua
Tlah ditumbuhi benalu
Dan aku malu
Pengin keluar kembali mengolah masa madu
/41/
Kalau kau sedang bersamaku
Janganlah sambil mengingat
masa yang lalu
di mana kaupernah perih terjerat
Ia telah usai
Waktu menebangnya dari hidupmu
Usah lagi kau bingkai
Jangan coba kembali diramu
/42/
Cukuplah warna bianglala
yang hinggap petang tadi
menyela kehidupan yang penuh cela
Menenangkan denyut nadi
Tibatiba melengkung ia
Tanpa mengetuk tanpa bicara
Hadir sebagai warna
Tibatiba pula menghilang ia
/43/
Bumi tak memanen khuldi,istriku
Maka mintalah apa-apa yang ada
dan jelas terbeli
Badanku mulai arku
Walau kau baru hamilmuda
ruwet oktober mulai singgah di mimpi
/44/
Lama sudah melupakan tenda
Api unggun dan sekeliling parit kecil
Menggarami nasi menggarami diri
Tikar-tikar dan mudanya belukar
Tali-temali dan kakak yang cakap
Kepada adik –kakak menaruh pesona
Saling salam lalu jatuh cinta
/45/
Pukul tiga aku bangun
duduk bersedekap
Memandang separuh badan
Sembilan orang dalam satu tenda
Kakikaki di luar
Seorang lagi terbangun
Memegang perut tersiksa dingin
“Kau sedang ingat rumah kan?”
Ia mengangguk
“Besok kita ke puncak,melihat carita”
“Besoknya lagi?”
“Kita turun dan berjalan kaki ke carita”
Kawah pulosari & rebusan belerang
Menunggu pagi dan hangat uap
rangkasbitung20/2
Adalah sepasang menjangan
lari dari kawanan
Sepasang menjangan yang menyerahkan diri
untuk cinta dan sepi sore yang ngeri
Kabut mulai merambat dasar sekali
Dan kakikaki
merasakan injakan alam mimpi
Kemiringan bukit
dan ramping lenggok rumput legit
tentu tlah ‘ngantuk dan kelelahan
Seharian mereka digosongkan
sambil melamun bagai kerja orang pelarian
Akan tetapi
angin & air tanah yang suci
menjadikan mereka betah
hingga terus bergetah
Tentu bukan itu maksud pelarian
waktu sudah timbul percintaan
Pelarian mereka bukan bentuk pengkhianatan
Bukan juga oleh sebab pengusiran
Pelarian mereka
beda dengan riwayat manusia pertama
“Inilah arti aku di bukit ini,cinta”
Menjangan jantan berkata pada betina
kekasihnya
Dan di bukit jauh dari kawanan
Menjangan jantan mulai menyerahkan
Panas cinta & badan
Untuk didekati betina sama kasmaran
hingga pagi,berduaan
Sampai bersua kembali dengan kawanan
Bertemu kawan lama
Seorang gurandil
Bagai ketemu dengan atlet olimpiade
Semangat & tujuan mereka sama
Berjuang demi emas
Kalau kau masih tetap berdua
dengan bayang-bayang selepas petang
Izinkan aku datang
Bertandang
Ketauhilah
Lelaki tak boleh durhaka
Pada puber kedua
Kecuali ia siap menipu diri
Atau takut sama istri
Kemarau meniadakan bersin di hidung kekasih
Merambatkan panas di punggung pejalan
Dan angin tak jua bergegas singgah di wajah
Daun-daun lumpuh dalam asuhan pohon
Orang-orang memilih kembali lelap
Memanjangkan mimpinya
Menebus keruwetan akhir ramadhan
Dengan meluruskan punggung dan kaki
Berita-berita pada bulan baik
Tak berisi cinta
Tanda suka kita
Pernah purnama
Bersatu bundar terang menyala
Tak terhalang sobekan awan
Membagikan kilau
Ke gelap punggung samodra
Kemudian dihempaskan badai
Saat malam sempurna tua
Dibelokkan takdir
Diintervensi wewenang Tuhan
Suara kucing berkelahi
Di bawah sinar bulan
Memperebutkan batas-batas
Dua mata burung hantu diam di pohon mangga
Rahang gang menghisap sisa debu lalu-lalang
Tak ada yang lebih sepi dari ini
Selain cintamu yang hanya hinggap bagai bianglala
Menorehkan sajak-sajak tak bertepi
Dan ceceran hampa
Meski bukan luka
NIGHTNIGHT by DEDDY