Bukan Kereta Ummi



Rangkasbitung, Akhir Mei 2012.
Atas Nama Buah-buahan,
-kuniahmed-



Rangkasbitung, Akhir Mei 2012.
Atas Nama Buah-buahan,
-kuniahmed-
Rangkasbitung hanya punya dua gantungan lampu merah di dua perempatan jalan.Yang kesatu ada diantara jalan Patih Derus yang tembus ke Kongsen.Satu lagi,di perempatan jalan daerah Jujuluk.Tapi,meski begitu,orang-orang di sini kebanyakan anti lampu merah.Maksud saya,jika mau bepergian ke suatu tempat manapun yang ada dekat lampu merah,kalau bisa selalu mencari jalan-jalan kecil lain yang menuju arah tempat yang dimaksud.’Main cepat’ kalau orang sini bilang.Termasuk saya.Tiap pagi,kalau ke Ona pasti lewat daerah Kampung Baru.Kecuali kali ini,karena saya lupa.Dan sekarang,saya sedang menjalani ritual sunyi jalanan demi sebuah ketertiban:menunggu warna lampu merah berubah menjadi hijau.
Angkot-angkot merah dengan strip hijau di bawahnya penuh oleh beberapa anak sekolah berjenis kelamin perempuan dan beberapa pegawai.Yang laki-laki kebanyakan naik motor.Zaman sekarang,apa susahnya ‘ngambil’ sepeda motor? Beda dengan tahun 90’an dulu.
Di trotoar,saya seperti melihat seseorang yang pernah saya kenal.
“Ismet!? Ismet lain?”
“Aih dia kuni! Nyisi heula kadieu!”
Sungguh menyenangkan dapat kembali bertemu dengan Ismet.Ia salah satu kawan karib saya waktu SD.Kabar terakhir menyebutkan kalau Ismet ada di Tanggerang.Hidup,bekerja dan menetap di sana.Jadi,kalau sekarang bertemu,mungkin Ismet sedang kebetulan menghabiskan akhir pekannya di Rangkas.Atau ada keperluan lain semisal menengok orang tuanya yang sedang sakit.Atau,bisa jadi datang ke Rangkas untuk mencari ‘sesuatu’ yang bisa membikin usaha atau negosiasinya di kota bisa berjalan lancar,biasanya dukun.Sebagian Orang-orang yang sudah sukses di kota biasanya begitu.
Karena kebetulan dipertemukan kembali pas di lampu merah,saya segera meminggirkan motor ke trotoar,tempat di mana ia sedang berdiri sekarang.Setelah bersalaman,kami segera mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol panjang.
“Naiklah,lama sekali tak bertemu,kita ngopi-ngopi di tempat bubur kacang dekat Kodim..”
Ia segera naik.Baru beberapa meter,saya mengerem motor.Lupa kalau yang pakai helm cuma saya.Buru-buru saya membalikkan arah motor,mencari jalan tikus.
“Ja sieun keneh dia ka polisi…” Kata Ismet sambil terkekeh
“Lain sieun,Met.Isin euy,nu jagana tatangga keneh…” Jawab saya,ketus.
Setibanya di tempat bubur kacang,kami memesan kopi hitam dua gelas dan dua mangkok bubur kacang.
“Lagi libur Met?”
“Libur apaan? Saya kan tinggal di Rangkas lagi sekarang..”
“Terus di Tanggerang?”
“Usaha bengkelnya bangkrut,tempat jadi mendadak sepi semenjak ada orang lain juga yang membikin usaha bengkel di sekitar situ…,kupikir itu akibat….”
“Mejik maksudmu? Sudahlah…,aku bosan mendengar hal-hal begituan,Cerita yang lain saja.Oh iya,jangan marah ya Met,ini hanya pertanyaan balas dendam,kau udah kawin?”
“Hahahahaha…,pasti kamu sudah ya? “
“Iya.Da bete pisan waktu dulu kalau ketemu sama teman-teman sekolah pertanyaanna selalu itu terus.Jiga yang nggak ada lagi pertanyaan lain saja..”
“Belum euy…,” Ismet menyeruput kopinya sedikit,”Tapi,mudah-mudahan sama yang sekarang jadi..”
Rupanya,setelah usahanya tutup di Tanggerang,Ismet kembali ‘balik kandang’.Kemudian ia menjual warisan dari bapaknya yang berupa kebun.Hasil dari penjualan itu kemudian ia gunakan untuk membuka usaha cukur rambut di sekitar pasar.Baru seminggu ini buka.Dan dalam seminggu itu pula keberhasilan di bidang lain,yakni perburuan jodoh,mulai terlihat tampak hasilnya.Katanya,kini ia sedang mendekati seorang gadis yang bernama Wiwi.Nama lengkapnya Winarsih.Seorang gadis yang sebentar lagi mau lulus kuliah.Asli orang Lebak,tinggal di daerah Warunggunung.
Hanya itu informasi awal soal Ismet yang kudapat.Sebab setelah jam menunjukkan pukul 8.30, kami segera berpisah untuk kemudian janjian ketemuan lagi di lain waktu.
Sore ini,cuaca cukup cerah.Setelah seharian bekerja,yang paling kepengin saya lakukan adalah ‘meluruskan badan’.Sasarean kalau orang rangkas bilang.Sambil mendengarkan kumpulan mp3 yang isinya suara burung semua.Tenteram betul rasanya telinga kalau sudah mendengar suara burung,walaupun berisik.Dulu,tiap kali sore tiba,serombongan burung-burung kecil dari banyak jenis suka melewati atap rumah ini kalau hendak kembali ke sarangnya di Gedung Juang yang letaknya tepat di belakang rumah saya.Kebanyakan berjenis walet.Di sekitar situ,pepohonan tinggi berjejer.Sekarang sudah jarang.Kalaupun ada,suaranya tak seramai dulu.Tiba-tiba ada sms masuk.Kubaca:Aku ada di depan rumahmu sekarang.Oh,rupanya si Ismet.
Setelah membuat dua cangkir kopi,kami sama-sama menikmati sore di depan rumah.Kali ini cuaca di wajah Ismet tak secerah cuaca sore ini.Sangat jauh berbeda dengan sebulan kemarin saat kami kembali bertemu.Dugaan saya,mungkin ia sedang ada masalah.
“Rupanya…,aku kembali lagi dikadalin…”
“Maksudmu? Sama siapa?”
“Ya..,sama si Wiwi. Siapa lagi?”
Tukang siomay lewat.Begitupun odong-odong.Hanya mobil kereta-keretaan saja yang tak lagi lewat ke sini.Bikin pusing para orang tua yang memiliki anak balita saja.Hingga akhirnya ditemukan satu cara untuk menghalanginya masuk: membuat polisi tidur tiap 5 meter.
“Kenapa bisa begitu? Aku sendiri hanya tahu kau sedang mendekati gadis itu.Kau tak pernah cerita soal perkenalanmu dengannya..”
“Waktu aku nyari tukang untuk membangun tempat usaha itu,aku bertemu dengannya.Di Warunggunung.Wiwi rumahnya tetanggaan dengan para tukang bangunan itu.Minta dikenalkanlah aku pada si Wiwi ke mereka.Setelah itu kami berkenalan dan saling bertukar nomor handphone.kuminta pin,dia menggeleng.Rupanya tak pegang blekberi.Sejak itu situasi ke depannya selalu positif,kebetulan ia sedang menjomblo pula..”
“Tiap hari kau main ke rumahnya?”
“Tentu tidak,aku ngakunya tinggal di Tanggerang..”
“Lalu?”
“Kalau kau mendengar lanjutannya,kau akan tahu bahwa aku adalah lelaki paling tabah & profesional…”
“Wah?”
“Kau tahu?”
“Tidak…”
“Oh iya,aku belum cerita,begini….,siang tadi aku mencukur rambut seseorang.Masih muda,usianya sekitar 25 tahun.Anak kuliahan.Minta disasak.Biar fresh.Dia bilang,selingkuhannya yang meminta ia agar disasak.Aku sih cuma nanggepin obrolannya saja.Cerita soal perselingkuhan dia.Banyak sebab kenapa selingkuh itu bisa terjadi.Salah satunya adalah karena hubungan jarak jauh.Dan sekarang ia sedang berselingkuh dengan wanita yang sedang pacaran jarak jauh…”
Ismet menghisap rokoknya pelan-pelan.Membuang asapnya pun pelan-pelan.Sebagian besar keluar lewat hidung.Kalaupun ada asap yang keluar lewat mulut,ia suka membuat bulatan-bulatan asap.Keahliannya sejak dulu.
“Kemudian aku tanya padanya soal tempat yang enak untuk ngobrol dengan selingkuhannya.Ia jawab di kamar kostnya.Seusai pulang kuliah.Beberapa sms keluar-masuk ke handphonenya.Sambil membalas sms,ia terus bercerita.Menurutnya,bercumbu dengan selingkuhan itu sungguh tiada tara nikmatnya.Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.Tak berapa lama,ketika aku sedang merapikan dan memberikan sentuhan terakhir dengan pisau tajam yang selalu ku asah sebelum kutempelkan ke kulitnya,datanglah selingkuhannya itu menjemputnya..”
“Cantik?”
“Ya.Cantik.Dan itu si Wiwi…”
“Hahahahaha…”
“Jangan tertawa dulu..,aku tetap berusaha tenang ketika membersihkan bulu-bulu halus di sekitar jambang dan janggutnya. Aku tetap profesional kan?”
“Ya..,ya…,ya. Kau memang profesional…,memang artinya profesional itu apaan coba?”
“Berusaha tetap menyelesaikan pekerjaan dan tidak menggorok lehernya!”

“Apa yang terjadi dengan kehidupan anak-anak saya sekarang,itu adalah hasil dari perencanaan yang panjang.Bukan datang dengan tiba-tiba.Melewati segala macam lika-liku dan banyak pertentangan pada saat itu.Hasil dari pengamatan saya saja,dicampur insting pedagang yang melekat pada otak saya,dan terakhir baru ridho dari Tuhan.Orang mau bilang apa,terserah….,yang penting sekarang saya sudah memetik hasilnya bukan?” Bang Gozali menatap ke arah saya.
Ada kacamata minus,gunting kuku,korek api gas,peniti,jarum pentul,dan banyak lagi.Semuanya dijual dengan harga ‘miring’.Beberapa barang bisa dihutang dulu,seperti kacamata misalnya.Memang harus begitu kalau jualan di kantor-kantor,karena biasanya orang tak segan-segan mau mengambil barang dagangannya jika bisa dibayar pas tanggal muda.Tanggal gajian.
Bang Gozali sendiri bukan asli orang Rangkasbitung.Ia lahir dan besar di Jakarta.Sampai kemudian selepas lulus SMA,ia menikah dengan tetangga neneknya di sini.Ibunya kebetulan asli orang Rangkasbitung.Akan tetapi,cara berfikir orang kota memang selalu jauh lebih baik dari orang kampung yang kebanyakan lugu.Ditambah pula dengan banyaknya wejangan yang bapaknya sampaikan kepadanya karena Bapaknya pun menikah dengan orang sini.Orang Rangkasbitung.Orang
kampung.
“Almarhum Bapak saya dulu dagang di kereta.Saya pun mengikuti jejaknya,dagang di kereta.Akan tetapi sebelum meninggal,Beliau berpesan bahwa anak-anak saya kelak kehidupannya harus lebih baik dari Beliau dan saya sendiri.Saya sendiri bingung harus bagaimana pada waktu itu.Beliau meninggal saat ketiga anak saya masih balita.Tapi rupanya tabiat Ibu dan isteri saya tak jauh berbeda.Mereka sama-sama orang kampung.Lugu,baik-baik dan tidak neko-neko.Apa yang didapat,itu yang disyukuri.Jarang mau ambil resiko,dalam hal apapun…” Bang Gozali kembali menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.
“Lalu,apa yang Abang lakukan selanjutnya?, Bu…,es teh manisnya satu lagi..,Abang mau tambah lagi?”
Saya sampai nambah segelas lagi es teh manis.Memintanya ke Ibu warung.Bang Gozali menolak tawaran saya,masih setengah gelas es teh manis miliknya.Hari ini memang begitu panas.Untungnya,warung dekat kantor ini begitu teduh karena dinaungi beberapa pohon besar.Jam istirahat begini,warung selalu ramai oleh pembeli.Namanya juga warung makan murah.Tapi soal rasa masakannya paling jempolan.Tapi ya itu tadi,namanya juga usaha deket kantoran.Pembelinya kebanyakan orang kantoran.Ada yang bayar ‘cash’,tapi kebanyakan doyan main ‘catat’,bayarnya pas gajian.
“Ya…,berarti saya harus melaksanakan pesan terakhir Almarhum…,” Menghela nafas panjang, “Berfikir bagaimana caranya agar anak-anak saya kelak bisa menghasilkan uang yang lebih enak di banding saya dan Almarhum yang dagang asongan macam beginian..”
“Caranya….?”
“Hehehehe,” Bang Gozali terkekeh,”Memanfaatkan hubungan baik dengan cara membinanya secara baik dan terus menerus…”
Saya masih bingung dengan maksud Bang Gozali.Walaupun pedagang asongan,ia sekolah,besar dan terdidik di Jakarta.Beberapa ungkapannya tak jarang butuh penjelasan panjang.Namanya juga orang kota.
“Begini…,” Ia melanjutkan sambil mengipasi wajahnya dengan sobekan kardus,”Mau jungkir balik macam apapun,tentunya hasil dari dagang asongan paling-paling hanya cukup untuk makan sehari-hari.Paling bagus ya kayak Almarhum Bapak saya itu,bisa menyekolahkan saya sampai tamat SMA…,itupun karena hanya saya anak satu-satunya.Lalu bagaimana dengan saya yang memiliki tiga anak? Waktu itu saya menduga,mungkin nasib mereka kelak tak akan beda jauh dari saya.Lulus SMA pula,dan kemudian berdagang asongan lagi.Entah di kereta,entah dari kantor ke kantor macam saya begini…,dan secara tak langsung berarti saya gagal menjalankan pesan terakhir Almarhum Bapak yang menginginkan cucu-cucunya menjadi lebih baik dari,dari segi penghasilan dan cara menghasilkan duit.Maka mulailah saya mendidik dan mengelola anak-anak saya dengan cara saya sendiri,yakni,membuat mereka berteman akrab dengan anak-anak orang kaya atau anak pejabat sebanyak mungkin…”
“Lho?”
“Lha? Iya…,memang begitu.Sejak SD sudah saya tanamkan begitu…”
“Kok?”
“Memang…,isteri saya,yang kebetulan juga menjadi penjual sayur di rumah,keberatan.Sangat-sangat keberatan dengan cara ini.Tak apa-apa.Tapi kemudian dengan penjelasan yang jernih,ia akhirnya dapat mengerti dan kemudian mendukung penuh cara saya itu…”
Saya masih belum mengerti.Saya biarkan Bang Gozali terus menguraikan penjelasannya.Sebungkus rokok kretek kembali saya buka.Saya simpan di tengah-tengah,diantara gelas es teh manis punya kami berdua.Ia kembali mengambil satu batang,sengaja ujungnya agak saya keluarkan.
“Saya menikah dengan isteri saya waktu ia baru lulus SMP.Ia cantik dan bersih.Tapi tak pernah kemana-mana setelah itu.Hanya di rumah.Kalau pagi kerjanya mencuci,setelah itu memasak.Agak siang sedikit,kalau hari sedang panas,ia mencabuti uban ibunya sambil duduk-duduk di teras rumah.Sorenya setelah mandi kemudian mengaji.Dan usai isya,kehidupan seperti berhenti bergerak.Hanya itu dan itu.Dari hari ke hari.Kalau ada lelaki yang main ke rumah,biasanya,tak berapa lama langsung diminta untuk segera kawin.Parahnya,kadang-kadang,di kampung tempat isteri saya tinggal,tak jarang antar tetangga itu saudaraan.Karena mereka bergaul dan saling menjalin cinta dengan orang yang di situ-situ saja.Paling bagus beda kampung…”
“Apa itu jelek?” Tanya saya.
“Saya tak bilang itu jelek.Sebab di sisi lain juga saya melihat betapa jiwa kekeluargaan dan persaudaraannya begitu tinggi,jauh dengan di kota.Tapi hanya di sekitar lingkungan itu-itu saja.Mereka minderan.Mungkin juga itu sifat tahu diri.Mengkotak-kotakan lingkungan dengan jenis profesi.Di tempat ini kampung pedagang.Tempat anu kampung petani.Perumahan cicilan itu khusus bagi mereka yang kerja di kantoran.Lalu bagaimana anak seorang pedagang bisa tembus kerja di kantoran kalau mereka hanya bergaul dengan sesama anak pedagang atau anak petani? Padahal kamu sendiri juga tahu kan? Jiwa persaudaraan orang-orang di sini begitu tinggi.Masalahnya,mereka cuma minderan.Dan saat itu,walaupun reformasi baru bergulir,tapi para ‘penggede’nya kan masih sisa orang Orba?”
“Awalnya gimana sih Bang?”
“Ya…,terus menerus membuat pertemanan anak saya tetap terjalin dengan mereka.Anak-anak SD kan sukanya main,setelah itu lapar,lalu pulang.Biasanya saya suruh anak yang sulung untuk membawa kawan-kawannya untuk makan nasi liwet bersama di rumah.Isteri kan selain dagang sayuran juga sedikit-sedikit dagang sembako.Lagian acara makan-makan begituan paling cuma pas hari sabtu dan minggu saja.Biasanya mereka suka main bola bareng atau apalah.
“Hanya berlangsung saat mereka SD?”
“Tentu tidak,selepas SD malah sebagian dari mereka berpencar.Ada yang meneruskan ke SMP swasta ini,ke SMP swasta itu,sementara anak saya tetap melanjutkan ke SMP Negeri yang biayanya terjangkau oleh saya & isteri.Dan pertemanan mereka tetap harus dilanggengkan dengan cara yang itu tadi: makan nasi liwet bersama di rumah tiap seminggu sekali.Malahan saya sendiri sampai akrab dengan orangtua mereka lho? Tak jarang yang meminta saya agar menasihati anaknya yang kebetulan bandel dan tak mau mendengarkan anjuran mereka.Tentu fihak ketiga seperti saya ini amat sangat diperlukan oleh mereka.Oh iya,apa dengan hubungan baik semodel itu saya harus mengeluarkan biaya makan bersama terus menerus? Tentu tidak,malah kita tak mengeluarkan biaya apapun selain tenaga,bahan mentahnya dari mereka…,hehehehe”
Bang Gozali terkekeh.Tertawa ringan & pelan.Tawa yang asyik.Tawa yang keluar dari sebuah kemenangan awal.Pintu masuk yang susah payah ia coba buka.Melabrak tradisi.Melawan keminderan.Melawan hampir semua omongan miring masyarakat sekitarnya yang menuduh bahwa Bang Gozali type orangtua yang pilih-pilih teman buat anaknya.Sombong.Tapi ia tak peduli.
“Barulah sejak anak sulung saya mau lulus SMA semuanya terasa.Mereka berpisah.Mereka melanjutkan kuliah di kota.Dan anak saya tetap menurut hitung-hitungan saya dulu: hanya bisa sekolah hingga tamat SMA.Lalu apa yang bisa dilakukan zaman sekarang dengan ijazah itu? Nyaris tak banyak.Akan tetapi ia telah memiliki pertemanan ‘plus’ dengan kawan-kawannya itu yang anak orang kaya atau anak pejabat.Beda dengan saya dulu.Beda dengan teman-temannya di sini yang satu kampung dengan kami di kampung para pedagang.Kawan-kawannya yang tinggal di sini ada yang sudah putus sekolah sejak SMP,kemudian membantu & melanjutkan usaha dagang orangtuanya.Kawin dengan orang satu kampung,paling banter dengan gadis tetangga kampung.Mengulang-ulang tradisi sejak dulu.Tak ada yang berubah.Keminderan dan pertemanan yang sempit tak bisa membuat banyak perubahan.Makin mengekalkan makna dari kampung kami:kampung pedagang.
“Lalu apa yang diperbuat anak Bang Gozali selepas lulus SMA?”
“Ya awalnya ngikutin saya juga.Berdagang asongan.Anak yang kedua,yang perempuan,membantu Ibunya mengelola jualan sayur & sembako di rumah…”
“Lalu hasil dari yang Bang Gozali lakukan selama ini mana?”
“Heheheh,” Ia kembali terkekeh, “Sabar.Itu kuncinya.Dan yakin.Mana bisa langsung terasa? Kan para anak orangkaya & pejabat itu sedang kuliah.Minimal lima tahun.Yang bisa dilakukan pada saat itu adalah tetap terus berkomunikasi.Tentunya tak lewat surat.Anak sekarang canggih-canggih.Lewat handphone,SMS.Kalau mereka pulang,anak saya suka disuruh main ke rumahnya.Tak jarang anak saya pulangnya suka bercerita bahwa ia suka banyak menyerap beberapa buku kuliah di kamar temannya itu.Sesekali mereka justeru yang sengaja datang ke rumah.Kangen dengan nasi liwet di rumah sini,katanya…”
Kepala saya mengangguk pelan-pelan.Bang Gozali menyeka satu persatu kacamata dagangannya.
“Nah,pas mereka telah lulus kuliah,semuanya berlangsung seperti yang saya bayangkan dulu.Mereka lulus,lalu mudah mendapatkan pekerjaan.Entah itu di perusahaan atau masuk jadi Pegawai Negeri.Waktu itu Pemerintah sedang merekrut banyak tenaga pegawai.Yang sulung,diajak si Gunawan,anak bos perusahaan pengolah plastik,awalnya ia hanya jadi cleaning service.Tapi sekali lagi,pertemanan yang baik dan terjalin lama antara mereka bisa membuat anak saya kemudian diangkat jadi pegawai tetap di perusahaan itu dan kemudian jadi ‘tangan kanan’ kawannya itu.Anak saya yang kedua,yang perempuan,si Neni,otaknya memamang lumayan encer.Ia ikut test pegawai negeri,kategori SMA.Masuk.Itupun sambil saya titipkan ke bapak kawannya yang kebetulan jadi pejabat penting di bidang pengangkatan pegawai itu…”
“Lalu yang bungsu?”
“Yang bungsu,si Iskandar,sungguh mirip ibunya yang orang Rangkasbitung dan religius.Tak mau bekerja di kantoran.Pantang dititipkan pada siapapun.Keras kepala,tapi religius.Ia satu-satunya anak saya yang hafal Qur’an.Sekarang ia yang mengelola jualan sayur dan sembako isteri saya di rumah.Ia juga yang jadi penggiat kegiatan keagamaan di lingkungan kampung kami.Dalam sebuah keluarga,pasti ada satu anak yang beda…”
“Hahahahahaha….” Kami tertawa berbarengan.
“Kenapa Abang & isteri tetap berjualan? Kan anak-anak sudah pada sukses?”
“Itulah…,anak pertama & kedua melarang saya dan isteri berjualan.Tapi ditentang oleh si bungsu,Iskandar.Masalahnya,mereka berdua itu takut betul pada Iskandar yang wataknya….”
“Hahahahahaha….” Kami kembali tertawa bareng.
“Wataknya yang Rangkas banget maksud Bang Gozali?”
Ia mengangguk,“Kau tahu sendirilah…”
Dan kami kembali tertawa bareng.
-kvni:ahm/20/2-


“Cok..,Thir…,Fathir…,ooiii…,Kutir…”
*Tak ada jawaban.Panon sipit ngareret bari ngagegelan henpon*
“Wah…,keur galau deui wae euy alo uing teh…”
Kalau saja Munawaroh itu bukan wanita dan bukan gadis yang ia idam-idamkan untuk menjadi isteri,tentulah Faisal sudah menghajarnya.Minimal: menamparnya.Dan itu yang sering dilakukan Faisal pada siapapun yang memperlakukannya tidak ‘fair’ atau siapapun yang telah mendongkolkan hati & perasaannya.Ia memang dikenal begitu oleh banyak orang.Sejak zaman SD malahan.
Sebagai sosok yang dikenal nakal sejak SD,hal yang pasti sering mampir ke kuping Faisal adalah nasihat.Nasihat dari Bapaknya,Ibunya,Guru-guru di sekolahnya,Paman & Bibinya,atau siapapun orang di sekitarnya yang berani menasihati Faisal.Asal jangan yang seumuran,bisa repot,salah-salah malah kena hajar Faisal juga.
Namun walaupun begitu,Faisal punya banyak teman.Hampir di semua lapisan.Kegemarannya main selepas pulang sekolah ke tiap rumah kawan lah yang membuat ia begitu.Ia tak pernah pilih-pilih teman.Saya dan Faisal kebetulan satu SD di SD Multatuli.Rumah kami hanya beda Kampung.Dan kebetulan,SD Multatuli itu letaknya dekat rumah saya di Jalan Bhayangkara.Tiap pulang sekolah,Faisal tak langsung pulang ke rumahnya,tapi mampir dulu ke rumah saya.Setelah saya ganti baju,barulah kita berdua pergi ke rumah kawan-kawan lain yang sekelas.Melewati sawah dan banyak kebun.Memunguti rambutan matang yang telah jatuh dari pohon.Sesekali naik pohon duku milik orang lain.Dari satu rumah ke rumah yang lain dan berakhir di satu tanah lapang yang luas.Tujuannya cuma satu: main bola.Dan waktu kita memang banyak dihabiskan untuk olahraga yang satu itu saat masih SD.Masalahnya adalah,hanya Faisal yang murni keluar dari ‘sekolah agama’.Kami-kami yang ‘patuh’ ini,tentulah beberapa kali sering membolos masuk sekolah agama yang waktunya tiap jam dua siang hingga jam empat sore itu.Dari situ,nasihat dari para orang tua kami ini silih berganti masuk ke kuping Faisal.Sebab kesimpulan mereka ternyata seragam:Faisal adalah biang kerok dari sering membolosnya kami saat jam sekolah agama.
Waktu SMP juga begitu.Kurang-lebih sama.Maksud saya,nasihat-nasihat dari banyak orang itu masih sering mampir ke kuping Faisal.Hanya saja akibat dari jenis kenakalan yang berbeda.Dan petualangan kenakalan Faisal itu selesai sudah di tangan Siti Munawaroh.Gadis yang ia cintai.Faisal mendadak ‘kuncup’ bagai ayam kena siram air.Apapun yang diperintahkan oleh Siti Munawaroh selalu Faisal turuti.Padahal sebetulnya,apa yang dikehendaki oleh Siti Munawaroh itu sama dengan apa yang dikehendaki oleh para orang tua kami dulu saat menasihatinya dulu: kamu harus berubah.
Namun,kalimat itu ternyata baru berfungsi di pikiran Faisal saat yang mengucapkannya adalah seorang Siti Munawaroh.Ajaib betul memang bibir Siti Munawaroh ini.Tiap hari perubahan di diri Faisal memang terlihat betul.Mulai dari berpakaian rapi,rajin shalat berjamaah di Musholla,meninggalkan begadang,dan banyak lagi.
Biasanya,apapun nasihat yang masuk ke kupingnya ketika ia diharuskan mencontoh si ini dan si itu,selalu berhasil ia tepis dengan berkata:”Tiap orang itu beda.” Kalimat saktinya kini telah dijungkalkan oleh Siti Munawaroh.Kabarnya,jika Faisal mengucapkan kalimat itu,Siti Munawaroh tak akan segan-segan memutuskan hubungan percintaan mereka.Syahdan,tangan Faisal sendiri yang mengubur kalimat itu seiring dengan perubahan demi perubahan yang sedang berlangsung dalam dirinya.Tiap orang,bisa meniru kebaikan yang diperbuat oleh orang-orang baik,begitu kata Siti.Dan Faisal,hanya diberi waktu tiga bulan untuk berubah dan mengikuti tiap instruksi kebaikan yang disampaikan oleh Siti.Setelah berubah,barulah Haji Sadeli,orang tua Siti,memperkenankan Faisal melamar anaknya.Itupun harus dengan syarat mutlak yang satu ini: memiliki pekerjaan tetap.
Tragisnya, terdengar kabar,bahwa Siti Munawaroh ternyata kemudian malah akan menikah dengan lelaki lain setelah berhasil merubah Faisal sebegitu totalnya.
Hingga pada suatu malam,ditelepon lah saya agar tidak kemana-mana karena ia akan menuju ke rumah saya.Agak lumayan sedikit aneh karena yang muncul nomor telepon rumah Faisal,tak seperti biasanya.Setelah ia datang,kami lalu duduk-duduk di depan rumah sambil minum kopi dan makan mie tek-tek yang kebetulan lewat.Faisal mentraktir saya.Ini gaji keduanya.Gaji pertamanya habis dipakai mentraktir Siti sekeluarga.
“Oke!,Siti memutuskan hubungan ini!,tapi tanpa memberi penjelasan kenapa semua ini harus berakhir –apa itu fair? Apa salahku? Aku sudah menuruti hampir semua kemauannya agar aku berubah,tapi kenapa ini mesti terjadi? Hah? Tak habis pikir aku dengan wanita itu!”
Tukang mie tek-tek mulai curi-curi pandang pada kami berdua yang sedang mengobrol serius,tapi kemudian aku beri tanda agar ia mengalihkan pandangannya dari kami berdua.Bukan apa-apa,saya takut tukang mie tek-tek itu jadi sasaran kedongkolan Faisal.Sebab tingkah Faisal yang masih saya hafal betul kalau sedang marah adalah:”Apa kamu lihat-lihat?!.” Dan setelah itu biasanya saya yang kerepotan harus memisahkan perkelahian Faisal dengan siapapun yang kebetulan suka memandanginya lama-lama kalau ia sedang dongkol berat.
“Ia yang mengajariku banyak hal soal agama.Ia pula yang dulu memboncengkan istilah ‘Sesungguhnya Tuhan Maha Berkuasa atas Segala Sesuatu’ ke otakku hingga aku selalu merasakan apapun itu menjadi enjoy walaupun sulit.Kau tahukan? Kalimat saktiku itu mendadak lenyap di tangan Siti Munawaroh! Tak bisa berkilah sedikitpun aku..”
Saya hanya menjadi pendengar.Mendengarkan apapun yang ia tumpahkan malam ini.
“Mau menikah sama siapa dia?” Aku mulai sedikit bertanya.
“Itulah,makanya aku ke sini menemui kau.Aku masih belum terima,makanya semenjak putus,aku menyelidiki siapa sesungguhnya lelaki yang akan menikahinya..”
“Lalu..?”
“Kemarin aku melihat dengan mata-kepala sendiri,calon suaminya itu sering keluar-masuk tempat dugem,rajin karaoke-an bersama dengan beberapa wanita muda..”
“Kau sampaikanlah itu pada Siti…,kasihan.”
“Justru itu,sudah kusampaikan padanya.Tadinya ku sms,tapi ia tak menjawab,mungkin sedang tak ada pulsa.Kemudian ku telepon lah ia lewat handphone…”
“Lalu?”
“Siti malah bilang: Tiap orang itu berbeda,ada lebih-ada kurangnya.”
“Lalu?” Dalam hati saya:Kalau saja Munawaroh itu bukan wanita dan bukan gadis yang ia idam-idamkan untuk menjadi isteri,tentulah Faisal sudah menghajarnya.Minimal: menamparnya.
“Dongkol lah aku.Kemudian ku telepon Haji Sadeli,Bapaknya,tanggung dendam lah aku…”
“Apa katanya?”
“Dia bilang: Semua orang bisa berubah.Saat itu juga kubanting keras-keras handphoneku ke lantai. Gila ini kenyataan! Hidup ini selalu sulit untukku tapi tidak untuk bajingan itu…”
Saat itu saya baru mengerti kenapa Faisal tadi menelponku lewat telepon rumah.
“Kenapa hanya karena dia anak orang kaya,walaupun tak bekerja tapi begitu mudah bisa diterima dan dimaklum segala kesalahan & kelakuan buruknya.Tak seperti aku yang pas-pasan,harus menempuh jalan panjang,berliku,berat.Bahkan sudah jelas baik pun masih saja di….”
Dari lanjutan kemarahan Faisal ini,saya menangkap satu hal: Kalau pas-pasan,harus banyak tabah.
“Kenapa harus dia yang telah merubahku. Setan! Anjing memang hidup ini! ”
Dari ungkapan dia yang ini,saya belajar satu hal: kadang orang yang telah merubah kita tak jarang justru yang sering mengecewakan kita. Siti seperti mengembalikan Faisal ke asalnya.
“Huuaahhh!!! Babiiiiiii….Itu orang harus mati!. Botol! Mana Botol!!!!…” Terkejut saya saat melihat Faisal ternyata sudah pindah duduknya ke bawah pohon yang jaraknya beberapa meter dari tempat duduknya semula.
Ini berarti saatnya saya harus membantu Faisal pulang ke rumahnya.Tak enak betul sama tetangga depan yang kebetulan Asrama Polisi.Beberapa Om-Om Polisi sudah mulai membuka jendela dan mengeluarkan kepalanya untuk mengetahui siapa yang bikin ribut saat tengah malam begini.Saya kemudian mematikan game angry bird yang sudah saya mainkan dari sejak Faisal mulai mengeluarkan botol miras itu.
“Temen,Om. Cuma mabuk Jack Daniels. Saya yang akan mengantarkannya pulang sekarang kok..” Kata saya sambil tersenyum.
Saya yakin si Om percaya pada kata-kata saya,sebab yang doyan tertawa tentunya hanya para penghisap ganja yang sedang dimabuk cinta.